Pejuang Muda Lawan Sampah Kantong Plastik

Pejuang Muda Lawan Sampah Kantong Plastik

Pepatah mengatakan, “what goes around comes around”. Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan pada satu waktu pasti membuahkan petaka. Contoh paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kantong plastik secara berlebihan.

Sejak pertama kali muncul pada era 1960-an hingga sekarang, kantong plastik kerap menjadi pilihan utama untuk membawa barang, terutama barang belanjaan dari toko ke rumah. Alasannya? Praktis. Namun, sadarkah kita bahwa di samping kepraktisannya, kantong plastik menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan?

pejuang muda lawan sampah kantong plastik

Mengkombinasikan aksi sosial dan bisnis

Sejak awal, proses pembuatan kantong plastik sudah merugikan karena menyita energi dan mencemari udara. Selanjutnya, plastik yang sudah tak terpakai akan menjadi sampah yang menyebabkan banyak masalah. Plastik membutuhkan waktu sekitar 1000 tahun untuk terurai. Saat proses penguraian tersebut, plastik mencemari tanah dan air sekaligus.

Racun masuk ke dalam rantai makanan sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem, utamanya di sungai dan laut. Bagi manusia, dampak negatif kantong plastik terjadi saat kantong plastik bersentuhan dengan makanan atau dibakar. Pencemaran yang masuk lewat apa yang kita konsumsi menyebabkan kesehatan menurun, sedangkan racun yang berasal dari hasil bakaran kantong plastik mengganggu pernapasan.

Fakta-fakta itu pulalah yang Mohamad Bijaksana Junerosano (34 tahun) pahami hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan Greeneration Indonesia (GI) pada tahun 2005 dalam struktur yang masih kasual dan berbasis komunitas. Barulah setelah ia menikah di tahun 2008, Sano dan dua orang rekannya berusaha mengangkat GI ke level selanjutnya.

GI pun dikonsepkan menjadi sebuah perusahaan ramah lingkungan yang fokus dalam membangun kesadaran masyarakat untuk hidup ramah lingkungan. Aksi pertama yang GI lakukan pada saat kemunculannya adalah program bertajuk “Diet Kantong Plastik” di Bandung. Saat itu, GI melakukan kampanye publik yang menyuarakan pentingnya mengurangi pemakaian kantong plastik demi mengurangi sampah yang dihasilkan.

 

tas belanja yang ramah lingkungan

Nah, meskipun GI merupakan perusahaan yang memiliki basis kegiatan sosial, manajemen kelola yang diterapkan tidaklah demikian. Sano yang usianya masih terbilang muda (usianya masih 23 tahun saat memulai GI) memahami bahwa jika menginginkan perusahaan tetap berjalan, ia harus pula menerapkan bisnis yang sehat di dalam perusahaannya.

Itu mengapa, dalam menunjang aksinya itu, GI menciptakan produk yang bisa menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Misalnya, baGoes yang merupakan tas pakai ulang yang praktis dan Waste4Change yang berupa jasa pengelolaan sampah bertanggungjawab.

Di samping baGoes dan Wastre4Change yang masuk ke dalam unit usaha, GI juga menyediakan kegiatan-kegiatan sosial lingkungan yang dikelola oleh yayasan. Pada tahun 2013, bersama mitra-mitra lainnya, GI membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang sampai saat ini tetap aktif dalam mengadvokasi pemerintah dan mengedukasi masyarakat terkait pengurangan penggunaan kantong plastik tadi.

Sementara sekarang, GI tengah membangun platform solusi permasalahan bagi lingkungan yang salah satunya tertuang lewat program Petualangan Banyu.

Sejalan dengan semua hal tadi, kita lalu mungkin bertanya-tanya dari mana Sano bisa mendapatkan pemikiran untuk mengelaborasikan kegiatan sosial dan bisnis yang biasanya tak selalu bisa jalan beriringan.

Sudah berbisnis sejak kecil

Sedikit kembali ke belakang, Sano yang merupakan sarjana Fakultas Teknik Lingkungan Institut Teknik Bandung (ITB), Bandung, ini memang ternyata sudah sedari kecil memiliki kepekaan terhadap bisnis dan lingkungan. Pada usia antara tiga hingga lima tahun, Sano beberapa kali pindah daerah di Banyuwangi demi mengikuti tugas dinas orangtuanya yang seorang PNS.

Saat itu, ia bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda pula. Dari sanalah ia belajar mengenali masalah. Sementara soal bisnis, Sano merasa bahwa bakatnya mungkin menurun dari sang kakek yang seorang pengusaha sukses. Sejak masih di bangku kuliah, Sano sudah rajin menjalankan usaha kecil-kecilan, seperti menjual T-Shirt bergambar yang ia buat sesuai pesanan.

Lalu, apakah aksi GI itu sudah bisa dibilang efektif dalam mengurangi sampah plastik di lingkungan kita? Sano berujar, “Kami memang belum memiliki riset yang mumpuni untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi, saat ini, kami lihat sudah tercipta ekosistem yang mendukung pengurangan penggunaan kantong plastik. Dari situ kami yakin ada andil dari konsistensi upaya yang kami lakukan sejak 2005.”

Ya, melihat apa yang sudah Sano dan GI lakukan memang sudah pantas rasanya kalau beberapa penghargaan ia raih. Sebut saja Bayer Young Environmental Envoy pada 2006, Young Changemaker Ashoka in 2007, dan Wirausaha Muda Mandiri pada 2011.

Lanjut soal keputusan pemerintah yang mengenakan biaya atas pemakaian kantong plastik, Sano berkomentar bahwa “Tentu saja kami mendukung peraturan tersebut, walaupun hasilnya masih belum sempurna dan masih dalam tahap uji coba. Harapannya justru dari hasil uji coba itu, didapatkan evaluasi untuk membuat sistem yang lebih baik lagi. Dengan begitu, pengurangan penggunaan kantong plastik dapat signifikan kita lihat”.

Lalu bagaimana kalau kita ingin berkontribusi? Secara sederhana, Sano menyebutkan langkah-langkah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan rumah tangga. Pilahlah sampah sejak dari rumah. Pisahkan sampah secara sederhana antara organik dan anorganik. Sampah organik dapat langsung kita komposkan, sedangkan yang anorganik dapat kita berikan ke lapak untuk yang dijual atau dimanfaatkan kembali.

Tidak sulit, kan? Jadi ayo kita sama-sama bergerak. Sebab seperti Sano, sekecil apa pun kebaikan yang kita perbuat, suatu saat pasti kita akan menikmati hasilnya.